Jumat, 15 Mei 2009

Ipod Seukuran Jari Kelingking

IPod shuffle yang baru di keluarkan di Amerika, sekarang udah masuk ke Indonesia. Gadget buatan Apple ini merupakan pemutar musik terkecil di dunia, walaupun kecil tetapi tetapi iPod ini memiliki fitur memberikan kinerja yang maksimal.

Salah satu fitur yang diunggulkan iPod ini adalah fitur voice over, yaitu sebuah fitur yang dapat memberikan informasi mengenai judul lagu,
nama penyanyi serta daftar lagu dalam bentuk suara.

Untuk bisa membuat iPod ini bersuara, pengguna dapat mendownload sofwarenya dari iTunes secara gratis, tersedia kurang lebih 40 bahasa selain bahasa inggris, tetapi untuk bahasa Indonesia belum tersedia.

Selain fitur tersebut, iPod ini memiliki kapasitas 4 GB serta memiliki pengaturan suara multifungsi pada earphonenya. iPod juga kompatibel Mac dan Window. Harga di Apple store Rp1.159.000


Sumber: agung12.wordpress.com

Situs Apple 1 Milyar Download

Melihat situs Apple, cukup terkejut juga dengan melihat counter yang menunjukkan bahwa sebentar lagi situs toko Apple (mungkin iTunes?) akan mencapai 1 milyar download. Luar biasa.

Jika satu lagu harganya $1, maka toko Apple ini telah menghasilkan US $1 milyar. Wah. Eh, rasanya ada banyak juga yang gratisan di sana (yang bisa didownload via iPhone, misalnya), tetapi tetap saja 1 milyar merupakan angka yang tidak sedikit.

Sementara itu di Indonesia toko musik digital masih tersendat-sendat. Duh.


Sumber: rahard.wordpress.com

Bayar 9,4 Jt untuk MacBook, Mau ??

Sebuah laporan akhir pekan lalu bahwa Apple (AAPL) sedang mempersiapan untuk membanting harga pada MacBook level entry dan model iMac, dipicu kebingungan dari spekulasi tentang point harga baru yang mungkin.

Apple melihat pemotongan yang bisa terjadi dalam waktu dua bulan atau – sebagai “interim solution” pada pertumbuhan popularitas netbooks saat ini. Misalnya saja Acer, Aspire One yang merupakan netbook bestseller Amazon , melihat pangsa pasar AS tumbuh 49,4% (untuk 13,6%) pada kuartal pertama di tahun 2009. Penjualan Mac turun pada quarter terakhir untuk pertama kalinya dalam 6 tahun terakhir.

Seberapa rendah Apple akan menurunkannya?
berdasarkan sumber yang tidak dikenal, dengan jelas dia mengatakan penurunan harga berkisar antara 1,1jt hingga 1,6jt.

Dengan pengaplikasian penurunan itu maka,
- MacBook putih 13-inchi : 9,4jt – 9,9jt, dikurangi dari 11 jt
- 20-inch 2.66 GHz aluminum iMac : 10,7jt – 11,2jt, dikurangi dari 12,3jt

fake-macbook-ad1

Dengan gross margin kuartal terakhir dari 36,4% – meningkat dari 34,7% pada Q1 – Apple tentu mampu mengorbankan beberapa keuntungan untuk pertumbuhan sahamnya.

Pertanyaannya, apakah ini akan bekerja?
Apakah Konsumen yang membeli Acers 3,9jt ,akan melirik MacBook jika harga yang ditawarkan 9,4jt?

Windows balas Iklan Apple

Masih ingat iklan Apple yang menyindir Windows Vista buatan Microsoft? Dalam iklan itu, PC (personal computer) yang digadang-gadang Microsoft digambarkan sebagai orang yang selalu komplain dengan masalah, sementara Mac sebagai orang yang selalu ceria dan hidup sempurna.

Kali ini Microsoft giliran membalas Apple lewat iklan toko online Zune Pass yang melayani bursa musik untuk perangkat MP3 player buatan Microsoft. Di iklan tersebut Microsoft menyentil iTunes milik Apple sebagai toko yang bisa menguras kocek dan Zune Pass sebagai alternatif yang jauh lebih ekonomis.

Bintang iklannya Wes Moss, mantan kandidat acara apprentice-nya Dinald Trump yang juga perencana keuangan. Di iklan itu, ia mengatakan bahwa untuk memenuhi iPod sebesar 120 GB dari iTunes Store pengguna harus merogoh kocek 30.000 dollar AS. Sebab, satu lagu dijual 0,99 dollar AS.

Sementara lewat Zune Pass hanya butuh 14,99 dollar AS. Layanan ini hanya menerapkan biaya langganan bulanan dan pelanggan dapat men-download lagu sebanyak-banyaknya.

Tentu saja itu hanyalah bahasa iklan. Biaya yang dituduhkan Moss kepada iTunes kan kalau pengguna membayar semua lagu yang diunduhnya. Padahal tak semua lagu dijual, ada beberapa yang gratis saat promo-promo tertentu.

Sebaliknya, pelanggan Zune Pass tetap harus merogoh uang 14,99 dollar AS setiap bulan entah mengunduh lagu atau tidak. Jadi, yah namanya juga iklan. Mau pilih apa terserah Anda. Lihat iklannya di sini.

Peringkat Komputer Paling Handal

Sebuah perusahan layanan support komputer, Rescuecom coba menyusun rangking merek komputer apa yang paling handal di Amerika Serikat. Dalam penelitian terbaru mereka yang dibesut pada kuartal pertama 2009, vendor komputer Taiwan Asus berhasil melengserkan Apple dari posisi puncak.

Dalam penelitian yang sama di akhir tahun 2008, Apple masih nangkring di posisi pertama sebagai vendor dengan produk komputer yang paling handal.

Dikutip detikINET dari IGN, Rabu (25/3/2009), rangking tersebut disusun menurut persentase jumlah kasus kerusakan yang dilaporkan ke call center dengan jumlah seluruh komputer yang dikapalkan dalam periode tersebut. Dengan demikian, perusahaan bakal mendapat skor tinggi jika mereka mengapalkan banyak komputer namun hanya mendapat sedikit komplain dari konsumen.

Dari perhitungan Rescuecom, Asus menduduki posisi puncak dengan skor 972 diikuti Lenovo dengan 348 poin, Apple menyusul di posisi ketiga dengan nilai 324. Posisi empat selanjutnya diduduki Toshiba berkat raihan skor 172 disusul Acer dengan nilai 151 dan HP/Compaq dengan nilai 142 nongkrong di tempat keenam.

Rescuecom mengarisbawahi bahwa keberhasilan Asus barangkali ditentukan peluncuran versi baru netbook Eee di September 2008 ke pasar Amerika. Produk ini laris manis dan hanya mendapat sedikit komplain dari pembelinya.

iNews dan E-book Selamatkan Koran?

Surutnya era surat kabar di berbagai penjuru dunia telah banyak diwacanakan, antara lain ditandai oleh surutnya pendapatan iklan dan jumlah pelanggan, lebih-lebih dari kalangan muda. Tak bisa disangkal lagi bahwa generasi muda yang juga dikenal sebagai Generasi Digital atau Generation C lebih menyukai peralatan (gadget) untuk mendapatkan informasi.
Menghadapi era transisi atau era baru ini, berbagai pendapat masih saling adu kuat, antara yang masih percaya akan kelangsungan hidup surat kabar dan yang yakin bahwa media yang pernah sangat berpengaruh ini satu hari nanti akan punah.

Hari-hari ini, tokoh besar media seperti Rupert Murdoch berada dalam kebimbangan besar. Sesaat sebelum resesi marak, Murdoch membeli Dow Jones yang menerbitkan koran The Wall Street Journal senilai 5 miliar dollar AS (sekitar Rp 60 triliun). Itu karena Murdoch dikenal sebagai sosok yang punya kelekatan kuat terhadap surat kabar (meski ia juga diakui sebagai mogul multimedia abad ke-21). Tetapi, kini ketika surat kabar mengalami kemunduran paling buruk semenjak Depresi (Besar tahun 1930-an), analis media di Miller Tabak, David Joyce, sempat mendengar dari para investor bahwa News Corp (konglomerasi media milik Murdoch) boleh apa saja, kecuali koran (IHT, 24/2).

Tantangan terhadap media cetak memang sungguh hebat. Orang membandingkan, mengapa media ini tak setahan TV, misalnya. Bahkan, ketika orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan layar internet, atau juga di layar video, tidak sedikit pula yang masih terus bertahan di depan layar TV. Sayangnya, dalam pertempuran di antara layar-layar tersebut, media cetak tertinggal di belakang (Print media losing in a world of screens, IHT, 9/2).

Berbagai ide dan upaya telah dilontarkan untuk menyelamatkan surat kabar. Satu problem yang disadari ketika surat kabar masih diharapkan terus menjadi sumber keuntungan adalah bahwa akan ada kesulitan yang melilit. Penjelasan ini bahkan muncul ketika versi online koran sangat berpengaruh seperti The New York Times sudah amat maju, dengan pengakses unik 20 juta. Penyebabnya adalah penghasilan dari online hanya mampu mendukung 20 persen kebutuhan stafnya.

Menghadapi defisit ini, diusulkan ada pengerahan dana abadi (endowment) bagi institusi media cetak sehingga mereka terbebaskan dari kekakuan model bisnis, dan dengan itu media cetak tetap punya tempat permanen di masyarakat sebagaimana kolese dan universitas. (Lihat pandangan David Swensen, Chief Investment Officer di Yale, dan Michael Schmidt, seorang analis finansial, di IHT, 31/1-1/2.)

Dukungan teknologi

Sebelum ini, salah satu pemikiran yang banyak dikemukakan untuk meloloskan media cetak dari kepungan media baru adalah dengan bergerak ke arah multimedia sehingga berita tidak saja disalurkan untuk koran, tetapi juga untuk media lain, dari radio, TV, hingga internet dan mobile/seluler. Ini selaras dengan realitas baru, di mana pencari berita memang dari kalangan pengguna media noncetak dan media baru. Paham pun beranjak dari pembaca (readership) ke audiens. (Ini pada satu sisi juga akan membebaskan pengelola surat kabar dari tekanan meningkatkan oplah yang semakin sulit.)

Dalam kaitan ini pula muncul sejumlah inisiatif yang diharapkan mampu mempertahankan eksistensi surat kabar. Dua di antara inisiatif teknologi yang dimajukan untuk berkembang, dan seiring dengan itu bisa membantu surat kabar, adalah iNews (berita melalui perangkat internet) dan e-book (buku elektronik).

iNews

Sebelum ini, salah satu model bisnis untuk mengangkat industri musik adalah melalui apa yang dilakukan Apple dengan toko musik online-nya yang terkenal, iTunes, yang tahun lalu menjual 2,4 miliar track (lagu).

Yang disediakan oleh Apple kemarin ini adalah antarmuka pengguna yang mudah digunakan dan kerja sama luas dengan perusahaan musik. Dengan itu, petinggi Apple, Steve Jobs, bisa membantu bisnis (industri musik) yang nyaris ambruk akibat maraknya aktivitas bertukar lagu (file sharing). Memang dengan itu Apple dituduh mengerdilkan merek besar. Tetapi, itu tetap ada baiknya karena toh perusahaan musik yang dikerdilkan tadi masih tetap hidup sampai kini.

Pengelola bisnis surat kabar pun bisa waswas bahwa Apple bisa melakukan hal yang sama terhadap mereka. Caranya juga sama, meyakinkan jutaan pembaca yang tertarik, yang selama ini mendapatkan berita secara gratis melalui situs surat kabar—seperti kompas.com—untuk membayar.

Pilihan ini memang tampak lebih ditujukan untuk menyelamatkan institusi pers karena manakala pendapatan merosot, yang terancam bukan hanya perusahaan yang memiliki koran, tetapi juga berita yang dihasilkannya (David Carr, Could an iNews rescue papers?, IHT, 13/1)

Ide mencari bantuan juga dilakukan sejumlah media lain karena jelas ”gratis bukan sebuah model (bisnis)”. Cook’s Illustrated yang punya resep segudang dilanggan oleh 900.000 orang dan ecerannya mencapai 100.000. Selain itu, perusahaan ini punya 260.000 pelanggan online yang membayar 35 dollar AS per tahun. Pertumbuhannya mencapai 30 persen tahun 2008.

Di luar itu, tetap harus diakui, paham gratis masih dominan di dunia maya. Yang piawai tentu Apple, yang bisa membujuk pembeli gadget-nya untuk mau membayar musik yang dibeli. Jobs melihat musik sebagai bisnis perangkat lunak untuk memacu penjualan iPod dan iPhone. Bisnis musik tidak sepenuhnya senang dengan itu, tapi terbukti bisa membujuk pendengar membayar isi (lagu) untuk perangkatnya.

Dengan alam pikir ini pula dipikirkan gadget yang juga bisa diterapkan untuk koran. Misalnya iPod touch yang akan diluncurkan musim gugur tahun ini, dengan ukuran layar 18 sampai 23 cm.

Untuk e-book ada strategi lain. Amazon, yang sebelum ini telah membuat alat pembaca buku elektronik bernama Kindle, belum lama ini mengatakan bahwa selain dengan Kindle, buku elektronik juga akan bisa dibaca dengan smart-phone. Plastic Logic, pembuat alat e-reader lain, kini juga telah membuat persetujuan dengan sejumlah majalah dan surat kabar (The Economist, 14-20/2).

Skenario serupa seperti diuraikan di atas untuk iNews—yakni dengan pembundelan pemasaran antara alat dan isi (content) diharapkan bisa diterapkan—untuk alat-alat pembaca e-book ini. Dengan itu, meski koran dalam wujud tradisionalnya surut, lembaganya diharapkan bisa tetap lestari.